BAHAYA HOAKS DI MEDIA SOSIAL: KETIKA VIDEO YANG TERPOTONG DAPAT MENGHANCURKAN NAMA BAIK SESEORANG

ahaconvert kgb 2026 copy

Oleh: M. Yusuf, S.Sos.I., M.Pd., CTrQ., CPSQ — “Kyai Gaul Batam”
ASN PPPK Ahli Pertama Penyuluh Agama Islam, Kantor Kementerian Agama Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau

BATAM — Ketika Sebuah Potongan Video Berubah Menjadi “Kebenaran”

Di era media sosial, sebuah video berdurasi beberapa detik dapat menyebar lebih cepat daripada klarifikasi yang membutuhkan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari.

Yang lebih mengkhawatirkan, sebuah video yang sebenarnya memiliki konteks panjang dapat dipotong, diedit, diberi judul provokatif, kemudian disebarkan seolah-olah menggambarkan keseluruhan fakta.

Padahal, potongan beberapa detik belum tentu mewakili keseluruhan kejadian.

Seseorang bisa saja sedang menjelaskan sesuatu, tetapi kalimatnya dipotong tepat sebelum penjelasan penting. Akibatnya, makna pembicaraan berubah. Sebuah ekspresi wajah dapat dipotong dari konteksnya. Sebuah rekaman lama dapat diunggah kembali seolah-olah terjadi hari ini. Bahkan, perkembangan teknologi memungkinkan munculnya konten sintetis dan deepfake yang semakin sulit dibedakan dari konten asli.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sendiri pada Agustus 2026 mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terkecoh oleh foto atau video lama yang beredar kembali tanpa konteks waktu, karena hal tersebut dapat menimbulkan persepsi keliru dan memperkeruh situasi di ruang digital.

Lebih jauh, Komdigi juga mengingatkan bahwa algoritma media sosial tidak melakukan verifikasi fakta secara otomatis. Informasi yang sensasional dan emosional dapat membentuk persepsi publik meskipun belum tentu sesuai dengan realitas.

5W + 1H: MEMAHAMI BAHAYA HOAKS DIGITAL

What — Apa yang terjadi?

Hoaks dan disinformasi dapat muncul dalam berbagai bentuk: berita palsu, judul menyesatkan, foto yang dimanipulasi, video yang dipotong, rekaman lama yang diberi konteks baru, suara yang dimodifikasi, hingga video yang sengaja diedit untuk membangun opini tertentu.

Tidak semua informasi yang salah selalu lahir dari kebohongan yang disengaja. Ada pula informasi keliru yang disebarkan karena seseorang tidak melakukan verifikasi terlebih dahulu.

Namun, apabila seseorang sengaja memotong, mengubah, menyusun ulang, atau mengemas sebuah video untuk menyesatkan publik dan merusak reputasi pihak tertentu, persoalannya menjadi jauh lebih serius.

Who — Siapa yang terdampak?

Korban bukan hanya orang yang menjadi objek video.

Keluarganya dapat terluka. Rekan kerjanya dapat kehilangan kepercayaan. Institusi dapat tercoreng. Masyarakat dapat terprovokasi. Bahkan orang yang ikut menyebarkan tanpa verifikasi dapat ikut menanggung konsekuensi moral maupun hukum.

When — Kapan bahayanya terjadi?

Bahayanya terjadi seketika ketika tombol “bagikan” ditekan.

Satu orang mengirimkan ke grup WhatsApp. Puluhan orang meneruskan. Kemudian masuk ke Facebook, TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai platform lainnya.

Dalam hitungan menit, sesuatu yang belum terbukti dapat berubah menjadi “fakta” di mata sebagian orang.

Where — Di mana penyebaran itu terjadi?

Di ruang digital: media sosial, grup percakapan, kanal video, forum daring, hingga berbagai platform berbagi konten.

Ironisnya, ruang digital yang seharusnya menjadi sarana berbagi ilmu dan kebaikan juga dapat berubah menjadi ruang penyebaran fitnah apabila digunakan tanpa etika.

Why — Mengapa orang menyebarkannya?

Ada yang karena ingin menjadi orang pertama yang menyampaikan berita.

Ada yang mengejar engagement, views, dan viralitas.

Ada yang terpengaruh emosi.

Ada yang ingin menjatuhkan seseorang.

Ada yang ingin membangun opini negatif.

Ada pula yang sekadar ikut-ikutan karena merasa, “Ah, saya hanya meneruskan.”

Padahal, “hanya meneruskan” tidak otomatis menghapus tanggung jawab moral seseorang.

How — Bagaimana cara menghadapinya?

Berhenti sejenak sebelum percaya.

Periksa video secara utuh.

Cari sumber asli.

Perhatikan tanggal dan lokasi kejadian.

Bandingkan dengan sumber lain yang kredibel.

Cari klarifikasi dari pihak yang terkait.

Jangan menjadikan judul, potongan video, atau komentar warganet sebagai satu-satunya dasar kesimpulan.

Kementerian Komunikasi dan Digital juga menekankan pentingnya memeriksa sumber, asal-usul konten, serta membangun kemampuan berpikir kritis dan etika digital sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi.


PANDANGAN KYAI GAUL BATAM: JANGAN JADIKAN POTONGAN VIDEO SEBAGAI HAKIM

Menurut asumsi pribadi saya sebagai Penyuluh Agama Islam, salah satu persoalan terbesar di media sosial hari ini bukan hanya banyaknya informasi palsu, tetapi hilangnya kebiasaan manusia untuk memeriksa konteks.

Kita sering melihat 10 detik video, kemudian merasa sudah mengetahui seluruh kejadian.

Kita membaca satu judul, kemudian merasa sudah memahami seluruh persoalan.

Kita melihat satu tangkapan layar, kemudian langsung menjatuhkan vonis.

Padahal, kebenaran tidak selalu berada di dalam potongan video. Kebenaran sering kali berada pada konteks yang sengaja tidak ditampilkan.

Karena itu saya mengajak masyarakat:

Jangan cepat percaya hanya karena videonya terlihat nyata.
Jangan cepat menghukum hanya karena videonya terlihat meyakinkan.
Jangan cepat menyebarkan hanya karena orang lain sudah menyebarkannya.

Sebab terkadang, beberapa detik video yang dipotong dapat menghancurkan reputasi seseorang yang dibangun selama puluhan tahun.

Dan yang lebih menyedihkan, klarifikasi sering kali kalah cepat daripada fitnah.


DALIL AL-QUR’AN: TABAYYUN BUKAN PILIHAN, MELAINKAN PERINTAH

1. QS. Al-Hujurat Ayat 6 — Perintah Verifikasi Berita

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
(QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan digital.

“Fatabayyanu” — telitilah, periksalah, klarifikasi terlebih dahulu.

Jangan sampai jempol kita lebih cepat daripada akal sehat dan hati nurani.


2. QS. Al-Isra’ Ayat 36 — Jangan Mengikuti Sesuatu Tanpa Ilmu

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

Artinya:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
(QS. Al-Isra’: 36)

Ayat ini memberikan pesan yang sangat dalam:

Apa yang kita dengar akan dipertanggungjawabkan.
Apa yang kita lihat akan dipertanggungjawabkan.
Apa yang kita yakini dan sebarkan juga bukan sesuatu yang bebas dari pertanggungjawaban.


3. QS. An-Nur Ayat 19 — Jangan Menjadi Bagian dari Penyebaran Keburukan

Allah SWT berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nur: 19)

Ayat ini memberikan peringatan keras terhadap budaya menyebarkan keburukan dan berita bohong.


DALIL HADITS: JANGAN MENYAMPAIKAN SEMUA YANG DIDENGAR

Rasulullah ﷺ bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Artinya:

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila dia menceritakan semua yang dia dengar.”
(HR. Muslim, no. 5)

Hadits ini sangat relevan dengan budaya forward, share, dan repost.

Perhatikan kalimatnya:

“Semua yang dia dengar.”

Artinya, seseorang tidak harus menjadi pencipta berita palsu untuk terjebak dalam kebohongan. Menyampaikan informasi yang belum diverifikasi pun dapat menyeret seseorang ke dalam dosa kebohongan.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan pentingnya kejujuran:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

Artinya:

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa kepada surga.”
(HR. Muslim)


JANGAN BIARKAN JEMPOL MENJADI SENJATA

Bayangkan seseorang sedang tidur bersama keluarganya.

Tiba-tiba namanya menjadi bahan pembicaraan di ribuan akun.

Bukan karena ia terbukti melakukan kesalahan.

Bukan karena pengadilan telah memutuskan dirinya bersalah.

Tetapi karena seseorang mengambil potongan video beberapa detik, mengeditnya, memberikan narasi tertentu, lalu mengunggahnya.

Dalam hitungan jam, nama baik seseorang dapat menjadi korban dari sebuah video yang tidak utuh.

Mungkin pelakunya lupa.

Tetapi korban bisa mengingatnya sepanjang hidup.

Mungkin bagi pengunggah itu hanya konten.

Tetapi bagi keluarga korban, itu bisa menjadi luka.

Mungkin bagi penyebar itu hanya satu klik.

Tetapi bagi orang lain, satu klik tersebut dapat menjadi awal dari kehilangan pekerjaan, kehormatan, kepercayaan, bahkan hubungan sosial.

Karena itu, jempol juga membutuhkan akhlak.

Teknologi boleh semakin canggih.

Kamera boleh semakin tajam.

Kecerdasan buatan boleh semakin pintar.

Tetapi jika akhlak manusia tidak ikut berkembang, maka teknologi hanya akan membuat kebohongan menjadi semakin cepat, semakin indah, dan semakin meyakinkan.


PESAN KYAI GAUL BATAM

Sebagai ASN PPPK Ahli Pertama Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, saya memandang bahwa literasi digital hari ini harus berjalan bersama literasi agama dan akhlak.

Kita tidak cukup hanya bertanya:

“Apakah video ini viral?”

Tetapi kita harus bertanya:

“Apakah video ini benar?”

Tidak cukup bertanya:

“Berapa banyak orang yang sudah membagikannya?”

Tetapi:

“Apakah saya sudah melakukan tabayyun?”

Dan sebelum menekan tombol SHARE, mari bertanya kepada diri sendiri:

“Jika ternyata informasi ini salah, siapa yang akan terluka karena saya?”

Jika kita belum tahu jawabannya, jangan sebarkan.

Lebih baik terlambat membagikan berita yang benar daripada menjadi orang pertama yang menyebarkan berita yang salah.

Karena di dunia digital, sekali sesuatu tersebar, kita mungkin bisa menghapus postingannya—tetapi belum tentu bisa menghapus semua luka yang ditimbulkannya.


PENUTUP

Media sosial seharusnya menjadi ladang pahala, bukan ladang fitnah.

Jadikan jempol sebagai alat menyebarkan ilmu.

Jadikan akun media sosial sebagai ruang menyebarkan kebaikan.

Jadikan setiap share sebagai sesuatu yang kelak tidak membuat kita malu di hadapan Allah SWT.

Berhenti sejenak.
Periksa sumbernya.
Cari konteksnya.
Tabayyun sebelum percaya.
Tabayyun sebelum berbicara.
Tabayyun sebelum membagikan.

Sebab kebenaran tidak membutuhkan manipulasi, sementara kebohongan sering membutuhkan potongan-potongan fakta agar terlihat benar.

“Jangan biarkan satu potongan video membuat kita menghakimi satu kehidupan.”

Kyai Gaul Batam
M. Yusuf, S.Sos.I., M.Pd., CTrQ., CPSQ
ASN PPPK Ahli Pertama Penyuluh Agama Islam
Kantor Kementerian Agama Kota Batam — Provinsi Kepulauan Riau

Ngaji Cerdas, Hidup Tuntas!

Referensi Utama

  • Kementerian Komunikasi dan Digital RI — literasi digital, disinformasi, algoritma media sosial, dan verifikasi konten.
  • Kementerian Komunikasi dan Digital RI — panduan pencegahan hoaks dan pentingnya pemeriksaan sumber serta fakta.
  • Al-Qur’an, QS. Al-Hujurat: 6 — prinsip tabayyun.
  • Al-Qur’an, QS. Al-Isra’: 36 — larangan mengikuti sesuatu tanpa ilmu.
  • Al-Qur’an, QS. An-Nur: 19 — peringatan terhadap penyebaran berita/keburukan.
  • Shahih Muslim — larangan meriwayatkan segala sesuatu yang didengar tanpa kehati-hatian.